Cerita ini aku alami sendiri tadi malam waktu berkunjung ke tuban jawa timur, ada yang mengatakan tuban adalah kota para wali, entah benar atau tidak disana memang banyak makam makam auliya dan syuhada,
waktu itu kami berkunjung ke rumah salah satu rekan, berangkat dari surabaya pukul 19.00 kearah tuban, dalam perjalanan salah satu rekan yang bernama prayogo sempat mengalami kecelakaan tapi untungnya tidak parah dan kami pun melanjutkan perjalanan kami ( hanya lecet - lecet dikit itupun salah satpam salah satu pabrik yang tiba2 menghentikan laju kendaraan roda dua kami sehingga prayogo tidak sempat menghindari, untung remnya pakem sehingga hanya 1 meter dari kendaraan pabrik itu prayogo terguling) harusnya kami sadari bahwa itu adalah pertanda adanya situasi yang tidak mendukung dalam perjalanan kami kali ini.
Pada pukul 22.00 kami pun telah memasuki perbatasan tuban dan langsung menuju kekawasan widang, disana kami menemui salah satu rekan lama kustari, setelah beristirahat sekitar 30 menit kami diajak untuk berziarah ke makam sunan di tuban, ( alasan kami memilih berangkat malam adalah kalo siang panas dan banyak kendaraan sehingga rentan terhadap kemacetan )
bener aja jarak dari desa widang ke kota tuban ditempuh selama 30 menit, lokasi pertama kami adalah makam sunan bejagung lor, disana kami diantar untuk mandi dulu di kamar mandi dibelakang ( mandi pake kembang lagi, katanya biar suci :d) setelah itu keluar dari kamar mandi baru aroma mistis mulai terasa dari lokasi itu, bau wangi khas menyerebak menusuk ke hidung kami, jujur takut itu ada karena kami melihat walupun melintas dengan cepat kain putih terbang dari belakang kami menuju makam, rasa yang ada adalah apa yang akan kami temui disana, waduuuhh....
Masuk area makam, suara tokek saling sahut menyahut, ditambah dengan anjing yang melolong, kami pun berdoa agar amal ibadah yang dilakukan oleh sunan bejagung dapat diterima oleh allah swt, setelah selesai berdoa kami pun berdiri dan melangkah untuk keluar, tiba - tiba ketika pintu dibuka, ada sesuatu yang membelakangi kami, perempuan dengan jubah putih sepertinya dia berdendang dengan bahasa jawa, ( lebih tepat menggumam, karena tidak jelas terdengar ) dendang lagunya kurang lebih kayak gini deh ....tak lelo, lelo lelo lidung...
Kami dibuat shyok banget ketika dia berputar arah dan menghadap ke kami, wajahnya putih pucat sepertinya kulit itu tidak pernah dialiri darah, rusak, matanya cekung hitam dan menatap tajam kearah kami, rambutnya awut - awutan panjang sepantat, bajunya putih bersinar.... ( apakah ini kuntilanak ) kami berenam perlahan mundur bingung juga ngapain tuch setan menghadang kami, kami kan mau pulang kenapa tidak menghadang saat masuk, kan kami masih bisa lari, perlahan dia maju, maaf tidak perhatikan dia melangkah atau melayang yang jelas kami sudha tidak bisa bersuara dan bergerak, kami berlima terpaku ketakutan setengah mati, duh gusti ... Bener bener serem
dia menatap kami, kemudian berkata dengan bahasa jawa, yang artinya kalo ndak salah kamu orang mana... Ngapain kamu malam malam kesini dan mengganggu saya, ... Apa yang kamu inginkan ...
Duh... Bingung... Untung saja teman kami yang bernama kustari segera maju dan berkata bahwa kami mohon maaf bila mengganggu tetapi tidak ada niat dari kami untuk mengusik keteenangan dia, kami hanya berziarah, itu saja tidak ada yang lain,
tanpa kami sadari dibelakang kami sudah ada pocongk berdiri, 3 pocongk wajahnya rusak penuh belatung, baunya busuk, dan kainnya walaupun kotor tetapi masih putih bersinar
semakin bingung kami dibuatnya karena kami terkepung oleh 4 mahluk halus......
Tiba - tiba kami dikejutkan oleh suara teriakan..." pergi"...."pergi"... Jangan menganggu... Sesosok kakek tua sambil mengibas - kibaskan semacam sorban kearah kuntilanak itu ... Asli kuntilanak tersebut langsung terbang menghilang diatas pohon - pohon dan pocongk yang ada dibelakang kami pun turut menghilang, dialah pak juru kunci makam tersebut, kami pun mengucapkan terima kasih sambil berlari menuju kendaraan kami untuk segera pulang, setelah mengantarkan kustari kami pun melanjutkan perjalanan ke surabaya
bayangan kuntilanak ternyata masih mengikuti kami sampai perbatasan gresik, telihat dispion sepeda motor kalo dia masih mengikuti kami, tancap gas dan lari sekencang kencangnya itu adalah jawaban terbaik yang rasanya kami miliki...
Selasa, 30 Juni 2009
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar